Maafkan Aku, Oma !!!


                     
Aku terpukul atas kepergian omaku, walaupun aku bukanlah cucu kesayangannya karena aku hanya cucu tirinya.  Tapi itu tidak membuat rasa sayangku berkurang, walaupun beliau suka memandangku sinis dan menatapku dengan tatapan kebencian tak membuat surut rasa cintaku padanya.

Masih terngiang kata – kata dokter Ahmad, dokter keluarga kami.
“Maaf, pak Irsyad, kami sudah berusaha, tapi sepertinya Tuhan punya rencana lain” ujar dokter   
Ahmad pada papaku. 

“Seandainya bu Reni dibawah lebih cepat, mungkin nyawanya masih bisa kami selamatkan” tambah dokter Ahmad lagi.  Jawaban yang sontak membuatku menangis histeris.

***
Hampir tiap hari aku menangis, di saat cucu – cucu kesayangan oma sudah bisa menjalani hari – hari mereka penuh keceriaan, sepertinya aku belum bisa menerima kenyataan ini.

Papaku pun yang bertype tidak mau tahu sampai turun tangan menanyakan kondisiku dan apa yang sebenarnya terjadi denganku.

“Sudahlah, Fah, biarkan oma-mu tenang disana” nasehat papaku

“Iya nih kak Ifah, aku aja cucu kesayangan oma sudah bisa menerima kenyataan” sambar Della adikku

“Lagian oma khan benci banget sama kak Ifah” tambah Della lagi, sambil menatapku tajam dan penuh tanya.  Ucapan sarkas Della ini membuatku ingin membantahnya tapi papa segera menetralisir keadaan yang mulai panas.

Oma Reni memang sangat membenciku, beliau menuduhku gara – gara akulah sehingga anaknya, yang juga mama tiriku meninggal.  Mama tiri yang kupanggil tante Eli itu meninggal saat aku mengantarnya ke mall.  Aku dan tante Eli memang sangat dekat.  Saat pulang dari mall tante Eli terkena serangan jantung, aku masih membawanya ke rumah sakit dalam kondisi sadar, tapi seperti oma, dokter pun tidak bisa menyelamatkan tante Eli.  Alhasil, oma Reni menuduhku bahwa akulah penyebab anak semata wayangnya itu meninggal. 

Sedari awal oma Reni memang tidak bisa menerimaku, dengan status sebagai anak kandung papaku yang menikahi anakny, tante Eli.  Aku melalui hari – hariku dengan penuh tekanan dari oma, tapi hal itu tidak lantas membuatku benci pada oma.

***

Sudah hampir setahun, semenjak oma Reni meninggal tapi rasa kehilangan plus rasa bersalah terus menghantuiku.  Pagi sebelum oma terjatuh di kamar mandi, aku mencuci pakaian yang segunung.

Karena kecapaian, sisa – sisa sabun di lantai kamar mandi kubiarkan begitu saja, tokh di rumah besar papa itu biasanya aku yang bangun paling pagi dan langsung membersihkan kamar mandi, tapi sepertinya pagi yang dingin karena diguyur hujan, membuatku malas dan terus bergelung di bawah selimut.

Kalau bukan teriakan Della yang histeris karena melihat oma Reni terjatuh di kamar mandi, mungkin aku masih tertidur.

Sampai hari ini, aku masih menyesali seandainya saja aku segera membersihkan kamar mandi pada saat itu, dan tidak menunda pekerjaan, tentunya oma Reni masih masih hidup sampai sekarang.

“Maafkan aku, oma” Cuma kata maaflah yang bisa kukirimkan untuk oma setiap hari lewat do’a dan tangisku.

Jumlah Kata : 458



6 komentar

Fauzi mengatakan...

Ngerti konsepnya, tapi saya kurang dapet sensasi FF-nya. Terlalu banyak yang kelihatannya boros kata (kebiasaan saya juga, sih). Kalau saya sendiri biasanya mengakali pemborosan keterangan di dialognya. Dialog antar karakter bisa membuat keterangannya tersampaikan meskipun si 'aku' tidak membatin panjang. CMIIW

Fauzi mengatakan...

Astaga, salah komentar. (akibat buka beberapa tab bersamaan)

Jiah Al Jafara mengatakan...

sbenernya utk ff bisa lbh dipadatkan lg. tetep smangat! coba deh mb colek2 admin mondayflashfiction, tetep welcome buat yg mau blajar :D

Aty Elias mengatakan...

Gpp mas fauzi, hehehe :)

Aty Elias mengatakan...

Semangattt...sdh tak kirimin pesan padahal, tp gpplah namax jg org mw belajar, jd mesti sabar...

Anonim mengatakan...

Jadi ikutan sedih.. Penyesalan memang selalu datang terlambat. Kalau datang duluan namanya pendaftaran.

*eh? :D

Maap becanda.

Salam kenal ya mbaa.. :D