Ratchanok Intanon dan Evaluasi

     Pekan ini dunia bulutangkis sedang ramai, karena sedang digelar Malaysia Super Series Premier, yang diadakan di Shah Alam, Selangor, Malaysia.  Gelaran Malaysia SSP ini akan mencapai puncaknya pada hari Minggu, 10 April 2016. Indonesia menempatkan Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir di partai puncak. Sebenarnya Indonesia mengirimkan 3 wakil di babak semifinal akan tetapi Greysia Polii/Nitya Khrishinda Maheswari tidak sanggup menahan laju pasangan Korea Jung Kyung Eun/Shin Seung Chan, mereka kalah dengan skor 16-21, 14-21.  Sedangkan the rising star Indonesia di sektor tunggal putra Jonatan Christie, harus takluk dari Chen Long. Jo sebenarnya sempat memberikan harapan, setelah di game 1, Jo unggul jauh 21-8. Di game 2, Jo juga unggul sampai skor 19, tapi Chen Long berhasil mengejar ketertinggalan dan membalikkan keadaan. Chen Long unggul 19-21. Dan, di game penentuan Jo harus kalah dari tunggal terbaik asal Tiongkok ini dengan skor 14-21. Tidak apa-apa, secara Jo harus berjuang dari babak kualifikasi. Semoga turnamen selanjutnya akan lebih baik lagi. Tokh umur Jo juga masih terbilang muda, dengan banyaknya mengikuti turnamen sekelas Super Series dan Super Series Premier, semoga akan menempa Jo. Baik secara fisik, skill, kemampuan dan terutama mental.  Untuk menjadi pemenang memang dibutuhkan mental juara.  Berikut adalah video Jonatan Christie vs Chen Long (Sumber: Badmintontalk).




     Bukan hanya Jonatan Christie yang memberikan kejutan pada babak semifinal, tapi salah satu tunggal putri andalan negeri gajah putih, Ratchanok Intanon juga memberikan kejutan.  Ratchanok Intanon, yang biasa disapa May lewat perjuangan yang gigih dan ulet berhasil menghempaskan Wang Yihan dengan skor 21-11, 21-19, setelah tertinggal 14-19 di game kedua, May berhasil mengejar.  Ini adalah kejutan bagi May, mengapa? Karena May dalam 12 kali pertemuan dengan Yihan selalu kalah, dan akhirnya di Malaysia SSP,  May bisa menuntaskan 'dendamnya', mengalahkan Yihan bukan lagi momok bagi May. Dan, May tidak lagi anti Yihan.  Bagi yang penasaran ingin melihat aksi mbak May, bisa diceki-ceki di youtube (Sumber: badmintontalk).

 
     May, lahir pada tanggal 21 Februari 1995 dan telah menjadi juara dunia di usia 18 tahun pada tahun 2013.  Dari May seharusnya atlit tunggal putri Indonesia belajar dengan usia yang masih cukup belia, tapi mampu bersaing di tengah kuatnya tunggal putri asal negeri tirai bambu. May bersama Carolina Marin (Spanyol), Nozomi Okuhara (Jepang) dan Tai Tzu Ying (Taiwan), menjadi pembeda saat ini, merekalah yang selalu menjadi hadangan besar bagi putri2 Tiongkok.  Terbukti May yang sering kalah dari Yihan, akhirnya berhasil pecah telor.  Terlihat dari permainan May, yang tidak hanya mengandalkan dropshot ataupun netting yang ciamik, tapi May lebih 'beringas' dengan smash-smashnya yang kencang.  Hal ini mengindikasikan bahwa May betul-betul melakukan evaluasi.

     Sebagai pencinta bulutangkis sejak jaman mbak Susi Susanti, tentulah aku mengharapkan ada penerus mbak Susi.  Harapan selalu ada, tahun 1994 saat final Uber Cup di Jakarta lahirlah bintang baru di sektor tunggal putri. Siapa lagi kalau bukan kak Mia Audina.  Usia 14 tahun, dengan mental baja, berhasil mengembalikan supermasi bulutangkis di sektor putri, setelah melanglang buana hampir 20 tahun di Jepang dan di Tiongkok. Selanjutnya lahir bintang-bintang baru seperti Maria Kristin Yulianti dan setelahnya ada Bellaetrix Manuputty, Lindaweni Fanetri, Maria Febe Kusumastuti. Meskipun tidak sehebat mba Susi dan kak Mia, Bella (kini cidera), Linda dan Maria terus berusaha untuk mensejajarkan diri dengan pemain-pemain dunia. Meskipun sulit, semua usaha srikandi-srikandi Indonesia ini layak kita apresiasi setinggi-tingginya.

     Banyak yang selalu pesimis, apabila Linda atau Maria Febe akan bertanding, karena sejauh ini mereka sering kandas di babak-babak awal. Itulah yang membuat para pencinta bulutangkis 'naik darah'. Dan, setiap kalah selalu ada kata EVALUASI mengikuti. Iya, evaluasi. Kemudian para pencinta bulutangkis atau badminton lovers (BL) akan bungkam. Beberapa sih akan komentar sana sini, anggaplah mereka BL labil, BL alay dan apapun itu. Mereka muncul saat atlit menang dengan pujian luar biasa, dan datang ketika atlit kalah dengan caci dan makian. Aku aja kalau jadi atlit badminton, mungkin gak tahan deh dengan bully-an para BL, huff, bikin nyesek hati. Tapi, kadang aku sedikit miris juga, mengapa? Karena setiap selesai pertandingan, maka akan ada kata EVALUASI di balik kekalahan itu. Ketika kata evaluasi itu keluar, para BL diam, ada yang misuh-misuh, bahkan ada yang mencibir. Persoalannya adalah setiap selesai evaluasi kok hasilnya sama saja. Tidak ada perubahan, tetap kalah di babak-babak awal. Okeylah, Lindaweni mungkin pernah dapat perunggu di kejuaraan dunia tahun 2015 lalu, tapi setelahnya tidak ada progress, hampir dikatakan datar-datar saja. Dan, kalahnya juga dengan pemain-pemain yang di atas kertas bisa mereka kalahkan. Sehingga banyak BL yang bertanya, hasil dari evaluasi apa?

     Melihat kondisi ini, maka kekhawatiran muncul apalagi Olimpiade 2016 sudah semakin dekat, kemungkinan besar Lindaweni atau Maria Febe bisa mengikuti ajang ini. Tapi, apa iya bisa bersaing dengan pemain-pemain sekelas Wang Shixian, Li Xuerui, Ratchanok Intanon, Carolina Marin, Tzai Tzu Ying, Nozomi Okuhara ataupun Saina Nehwal. Jika melihat rekor-rekor pertandingan mereka yang selalu kalah di babak-babak awal. Bisa saja mereka ke Olympic Games (OG) hanya menjadi penghias belaka, partisipan dan yang parah menjadi 'bulan-bulanan' pemain dari negara lain. Ohhh, inikah evaluasi?

     Indonesia bukan tak punya stok pemain tunggal putri, ada beberapa yang menghuni pelatnas seperti Fitriani, Gregoria Mariska, Hanna Ramadhini dkk.  Jika boleh usul, Fitriani dan Gregoria ini diikutkan di turnamen-turnamen selevel Super Series ataupun Super Series Premiere.  Dengan mengikuti turnamen besar, skill akan makin terasah, semangat juang akan semakin tinggi dan mental juara akan tumbuh. May, sudah mengikuti turnamen-turnamen besar ketika masih berumur 15 tahun. Thailand memang menyiapkan May untuk menjadi pemain kelas dunia. Nah, Indonesia gimana? Jangan lupa negara kita ini adalah negara bulutangkis. Juara-juara dunia banyak yang lahir dari negeri ini, dunia segan apabila menyebutkan nama-nama seperti Rudi Hartono, Liem Swie King, Icuk Sugiarto, Susi Susanti, Ricky, Rexy, Liliyana dan Hendra Setiawan.  Jika sektor tunggal putri ini tidak segera dibenahi, maka tunggulah 2 atau 3 tahun ke depan, jangankan bersaing di dunia, mungkin di tingkat Asia Tenggara Indonesia akan ketinggalan jauh.  Istilahnya harus berani potong generasi. Di sektor tunggal putra Tommy Sugiarto dan Simon Santoso sudah memberikan contoh. Mereka mundur dari pelatnas, akhirnya mau tidak mau, suka tidak suka mengorbitlah Antony Sinisuka Ginting, Jonatan Christie dan Ihsan Maulana Mustofa.  Hasilnya cukup memuaskan, Antony, Jojo dan Ihsan bergantian menghiasi setiap turnamen.  Pencapaian mereka sungguh mengagumkan, berhasil menghempaskan pemain-pemain kelas dunia. Mereka bertiga bahkan menebar ancaman. Meskipun belum juara, masih sebatas finalis, semi finalis ataupun gagal di babak quarter final. Setidaknya mereka sudah mencicipi bagaimana rasanya menjadi calon juara. Jika mereka terus diikutkan di turnamen-turnamen besar bukan tidak mungkin salah satu dari mereka akan menjadi penerus om Guntur alias Liem Swie King.  Dan, pemain putri kita apa masih mau 'diperam'? 

     Jika mau melakukan EVALUASI, maka lakukanlah seperti mbak Ratchanok Intanon. May, mengevaluasi dirinya sendiri, menambah porsi latihan dan membenahi kekurangannya. Bisa lihat sendiri khan perbedaannya saat melawan Yihan tadi.  Jangan mau dibully lagi mbak-mbak sama BL, aku itu sampai sakit hati baca komentar-komentar BL lho. Ayolah mbak-mbak raih podium tertinggi, jangan mau jadi penghias turnamen saja.  Dengan menjadi juara, mbak-mbak bisa dapet hadiah gede lho.  Mau dapet tunjangan hari tua khan, kayak mba Susi, Kak Mia, Maria Kristin dan cik Butet. Kalau mau, ayoo dong semangat. Daya juangnya ditingkatkan lagi, dan jangan gentar sebelum bertanding. Berusaha lebih keras, karena usaha tak akan pernah menghianati hasil. Jikalau bukan kalian sendiri yang memotivasi diri, siapa lagi. Pelatih hanya sebatas melatih, memberikan masukan dan arahan. Tapi, semangat untuk mejadi jauara itu datangnya dari diri sendiri.


Akhirnya, aku cuman mau bilang: "Tanyakan pada diri sendiri, apa sebenarnya motivasi mbak-mbak ikut turnamen? Juara atau ada hal lain? Karena semua kembali ke motivasi awal. Jikalau punya motivasi lain, bukan untuk menjadi juara. Mungkin perlu membenahi motivasi dulu, baru ikut tanding deh, kalau sudah tidak ada motivasi untuk menjadi juara. Mungkin mbak-mbak bisa memberikan kesempatan kepada adik-adiknya yang punya motivasi untuk menjadi juara. Demikianlah cuap-cuap ala emak-emak BL, bermanfaat tidak bermanfaat yang penting aku dah curhat, lepas semua yang ada di dada.  Sebenarnya masih banyak, tapi sudahlah nanti kebanyakan dan aku dikatain "Emang situ bisa nepok bulu?." Kalau ditanya gitu khan sakit, bro. Secara khan badan sudah tak sekecil dulu, hahahaha.

Semangat buat turnamen selanjutnya, Singapura menunggu. Jangan mau cuman jalan-jalan di negeri singa. Tapi, jadilah juara.  Lumayan kalau juara, hadiahnya bisa beli tas branded atau beli mobil baru tanpa harus nyicil #ehh.


Salam olahraga,
-Aty Elias-

0 comments: