Plus Minus Sekantor dengan Suami

      Sepuluh tahun bekerja di Kementerian Kelautan dan Perikanan, aku tidak pernah menyangka bahwa kelak akan sekantor dengan kak Ias –begitu aku memanggil suamiku–. Aku mulai bekerja di Kementerian Kelautan dan Perikanan sejak tahun 2006, selisih empat tahun dengan kak Ias, dia mulai bekerja di Kemen KP sejak tahun 2010.

Dan, aku sekantor dengan suami, why not??

Aty Elias
Banyak suka dan duka yang kami lewati bersama semenjak bekerja di institusi yang sama. Apalagi kami menempati rumah dinas, yang berada satu kompleks dengan kantor kami bekerja. Alhamdulillah, ketika orang – orang yang bekerja di Jakarta harus berangkat jam 5 atau 6 pagi, kalau kami jam segitu masih gegulingan di kasur, hehehe. Masuk kantor jam setengah 8, aku malah kadang bangun jam 7 lho –abis Shubuh, tidur lagi inih–, karena aku jilbabannya biasa ajah alias gak pake diputer sana sini di kepala, jadinya bisa cepet. Malah kadang aku make jilbab yang langsung pasang ajah, xixixi. Kata kak Ias kalo make jilbab model langsung pasang, berasa ke kantor ndak niat, tapi kalo pake phasmina dia kadang suka kesel juga. Kelamaan di depan cermin, dia juga pengen sisiran soalnya. Belum kalo aku minta nebeng, boncengan maksudnya. Kantor emang deket, tinggal guling–guling ajah juga bisa. Tapi, kadang aku males jalan dan males ngeluarin sepeda dari garasi #emakpemalas. Jam istirahat, bisa pulang tidur lho kami, wkakak.  Ada tukang sayur, tinggal cap cus ke rumah, taruh di kulkas. Setelahnya, tuh belanjaan kadang aku lupakan. Tempe mengering, bayam yang layu, ikan yang sampai menyatu dengan freezer. Bukan males, kadang pulang kantor aku sudah capek. Tapi kadang–kadang aku nyampe rumah, sudah ada makanan lho. Hal ini terjadi kalo kak Ias masak, karena dia orang lapangan –tekhnisi kolam/tambak– waktunya lebih fleksible. Lokasi kerjanya hanya berjarak 20 meter dari rumah kalo ndak salah. Yang memisahkan hanya lapangan volly dan basket, luar biasa nyamannya tempat kerja kami. Alhamdulillah.

Bekerja di kantor yang sama dengan suami, ada nilai lebihnya atau nilai plusnya. Berikut beberapa poin plusnya sekantor dengan suami.
1.      Punya Teman Sama
Karena sekantor berarti teman pergaulan kami sama, jadi tidak ada pertengkaran soal aku yang deket sama si A, atau kak Ias yang deket sama si B. Yah, karena temannya ya temanku juga. Jadi aman dunia persilatan, hehehe.

2.      Saling Mengontrol
Berkaitan dengan poin 1, dari pertemanan itu kami bisa saling mengontrol. Bahwa pertemanan antara laki-laki dan perempuan itu ada batasnya. Bisa saja aku dekat dengan si A misalnya, tapi sebenarnya kak Ias tidak suka melihat kedekatan tersebut. Nah, disitu perannya untuk mengontrol, supaya jangan terlalu dekat dengan si A. Begitupun sebaliknya. Intinya sih kami bisa saling menjaga pergaulan.

3.      Obrolan dan Informasi
Meskipun kami sekantor, tapi terkadang obrolan kami berbeda. Karena bagian kami yah beda. Jadi, ketika pulang kantor kami sering mengobrolkan hal-hal yang terjadi di bagian masing-masing. Yah, namanya kantor pasti tiap bagian punya intrik dan gossipnya masing-masing tokh. Akan tetapi, biasanya muara atau ujung-ujung dari obrolan kita itu sama. Tentang si ini dapet promosilah, atau tentang si itu yang sedang bersitegang dengan bos, pokoknya macam-macam. Selain itu, kami juga sering tukar informasi utamanya tentang pekerjaan. Misalnya, aku ingin tahu berapa luasan petakan kolam A di instalasi Air Tawar, aku gak perlu lagi pusing-pusing nanya bossnya dia. Langsung aja nanya sama teknisi-nya, yang selalu setia ada di sampingku, hehehe. Hemat biaya dan pulsa khan.

4.      Biaya Operasional Irit
Kalau soal biaya operasional sih emang sudah dari sononya irit. Tinggal jalan dikit sudah nyampe kantor, kayuh sepeda atau naik motor, 2 menit juga sampai, hehehe. Urusan dapur pun tidak begitu ribet. Jam istirahat, pulang, langsung makan. Gak perlu ke kantin lagi khan. Etapi, aku biasanya lebih sering beli deh, hehehe. Jadi iritnya dimana cobak? Hahaha.

5.      Lebih Terbuka Soal Finansial
Iya karena kami sekantor, jadi aku tahu semua kapan dan honor apa yang keluar saat itu. Jadi, kak Ias tidak bisa ngelak soal duit, hahaha. Kalau soal ini, aku yang menang. Nggak perlu nunggu doi ngomong kalau habis terima honor ini dan itu, wong aku lebih tahu kok daripada dia, wkakak. Akhirnya, kami lebih terbuka soal finansial satu sama lain. Soalnya pernah aku denger, salah satu temenku bilang, kalo yang honor ini dan itu, gak perlu ngasih tahu istri. Mereka cukup tahu gaji ajah. Kalo honor sebangsa uang makan sih, itu pegangan buat beli bensin. Itu sih sah-sah saja, masing-masing orang khan ada managemennya sendiri. Tapi, kalo menurutku sih, sebaiknya istri/suami dikasihtahu kalau habis terima honor ini dan itu. Yah, biar saling terbuka untuk urusan finansial. Urusan duit kadang sensitif.

6.      Berbagi Pekerjaan
Bagian berbagi pekerjaan ini yang paling aku suka, ya iyalah. Biasanya aku dapat jatah pekerjaan lebih ringan di rumah, hehehe. Dulu sih aku sering lembur-lembur. Duluu. Jadi, kalo kerjaanku numpuk di kantor, aku bisa dibebaskan tidak masak, tidak nyuci, tidak beres-beres. Nah lho, itu mah semuanya gak ada yang aku kerjain, hahaha. Intinya sih begini, ketika aku banyak kerjaan, maka sebagian besar pekerjaan domestik akan dikerjakan oleh kak Ias. Begitupun sebaliknya. Yaa, kali masak suami eyke sudah berpeluh-peluh di kolam/tambak masih aku kasih bagian kerjaan nyapu halaman. Durhaka banget khan. Saling pengertian kami terapkan untuk hal-hal berbagi pekerjaan.

7.      Melatih Sikap Profesional
Dengan bekerja sekantor, dan punya basic ilmu yang sama melatih aku dan kak Ias untuk saling profesional satu sama lain. Aku tidak akan mengintervensi pekerjaannya terlalu jauh apabila tidak dimintai pendapat. Begitupun dengan aku, sebenarnya aku sih yang lebih sering minta pendapat atau saran, utamanya hal-hal yang berkaitan dengan kondisi lapangan. Jujur aku tidak punya terlalu banyak pengalaman dan skill di lapangan. Aku type pemikir, yang lebih senang di belakang meja. Memberi ide-ide segar untuk kemajuan di kantor. Jadi, ketika aku dikasih tugas lapangan, yah aku akan lebih bertanya pada kak Ias. Nah, kak Ias pun demikian.  Ketika diberi urusan kantor, masalah ketak-ketik di laptop, mengerjakan segala tetek bengek administrasi, aku akan sigap membantunya. Yah, begitu kami memang saling melengkapi. Tapi selalu berusaha untuk profesional.

Ada sisi plusnya, ada juga sisi minusnya. Apa saja minusnya sekantor dengan suami
1.      Dianggap Dua Orang yang Sama (padahal mah beda)
Ini aku yang paling kesal, ketika satu orang yang berbeda dianggap sama saja. Contohnya, aku melakukan kesalahan, eh yang dimarahi malah kak Ias. Orang yang tak tahu menahu persoalan. Seperti kasus statusku di fb, dan ada orang yang tersinggung. Padahal mah, maksud aku lain, yang tersinggung juga lain. Aku malah tidak kena marah, justru kak Ias yang kena getahnya. Sabar yah beib, punya istri yang trouble maker macem aku. Tulis status aja diprint lho, tempel aja sekalian di papan pengumuman, hahaha.

2.      Jika Gajian Telat
Meskipun kami tidak pernah merasakan gaji telat, tapi bayangkan kalau misalnya gaji kami tidak masuk rekening tepat waktu. Wah, bisa kacau dunia perdapuran, hahaha.

4.      Bertengkar karena Urusan Kantor
Yang paling parah tuh, kalau pekerjaan mulai banyak, tekanan di kantor meningkat. Biasanya tensi di rumah juga makin tinggi. Yah, gitu pertengkaran tak terelakkan lagi. Misalnya, soal siswa yang tidak diberi izin untuk memberi pakan, karena harus belajar sore. Ataukah siswa yang tak kenal waktu, datang ke rumah mencari aku misalnya, nah ini bisa memicu perang nuklir, hahaha. Yah, kami tinggal di lingkungan kampus, bersama siswa dan siswi, kadang-kadang mereka datang ke rumah di jam-jam ajaib lho. Aku pernah didatengin siswa pukul 10 malam, hanya karena siswanya pengen curhat. Dulu, waktu kak Ias kena jatah piket, jam 5 shubuh kadang rumah sudah diketuk, biasalah olahraga pagi.

5.      Lingkungan/pergaulan yang itu-itu saja.
Karena kami tinggalnya di kompleks, pergaulan kami yah di lingkungan itu-itu saja. Apalagi aku orangnya malesan. Males kemana-mana, karena aku doyan tidur sepanjang hari, hahaha. Aku kurang punya teman di luar kompleks, paling-paling orang luar kompleks yang kenal sama aku. Kadang mereka tahu namaku, tapi aku tak tahu mereka, hahaha.

     Demikianlah ceritaku, 10 tahun mengabdi dan 5 tahun sudah mengabdi bersama suami. Ada banyak cerita yang terangkum dalam perjalanan hidup kami. Mungkin dari teman-teman yang sekantor dengan suaminya, punya cerita berbeda lagi. Ini ceritaku, mana ceritamu?

Salam hangat,
-Aty Elias-

  

20 comments:

Rini

Idem, mbak. Aku segedung dengan suami, beda divisi. Soal bonus gaji tuh setujuh, sama2 gak bisa ngumpet. Hahaha

tia putri

Aaaa... dr dulu aq blm pengen sekantor sm suami. Krna klo di swasta satu kantor artinya bener2 satu atap, yg dikuatirkan pekerjaannya saling berkaitan. Bs2 conflict of interest. Klo jd PNS bisa ada kemungkinan beda dirjen kan ya mba? Temenku ada yg gtu di ESdM, jd gak sekantor2 amat.

Klo nilai plusnya aq setuju bgt. Terutama masalah transportasi. Aiih bisa reduce hingga 50% tuh, secara kendaraannya satu sekali jalan berdua.

Nah klo di swasta negatifnya sekantor adl tunjangan istri jadi ditiadakan, krna dianggap udah di suami. Untung bonus ttp sendiri2.

Yg aq pgn skrg bukan sekantor, tp searah kantor. Klo bs kantornya saling deketan, biar jam makan siang ada temennya. Hehehe...

Levina

Haha. Bisa waskat ya Mbak. Pengawasan melekat. Hahay.
Kalau saya sih sebetulnya pengennya profesional aja yak. Di kerjaan rekan kerja di rumah ya baru rekan rumah..haha. Kadang suka aja ada yg iseng, kalau kita ga jalan bareng disangkanya ga harmonis. Halah, masa harus bareng-bareng terus even di kantor yak?

rita dewi

Wah asyik sepertinya ya.. dengan lingkungan kerja dan lingkungan rumah yg seperti itu.

Rinda Gusvita

Bapak-Ibuku dulu dipindahin, nggak boleh satu sekolahan. LOL.

fanny fristhika nila

kita sedikit bda nih mba.. aku dan suami kerja di bank asing yg sama, tp beda department, cuma saling berhubungan.. jd aku di kantor cabang, smntara dia semacam trainer dan auditor. soooo, kalo kantor cabang diwajibkan ikut training di knor pusat, dan trainernya suamiku, wiih, abis deh diceng-cengin ama temen sekantor ;p.. ato kalo lg ngaudit ke kantor cabangku, biasanya sih memang bkan suami yg dtg krn ditakutkan conflict of interest.. Tapiiii, biasanya aku srg ngadu ke dia kalo temennya yg dtg ngeaudit mengenakan finding saat audit ;p.. hihihihi... tp pastinya enak kalo kerja di perusahaan yg sama ama suami.. aku nya jd ikut terkenal juga ama banyak org ;p..

Nia Haryanto

Wah... Seru, ya. Kebayang aku kalo sekantor sama suami. Kasian suamiku kayaknya. Aku bawelin terus. Gak di rumah gak di kantor. Hihihi...

suria riza

serunya...aku belum pernah sekantor xD

Aty Elias

Ini memang sekantor beneran, mba. Karena kemarin waktu test emang yang ada posisi dan sesuai dgn pendidikannya yaa di kantorku itu, hehehe. Suami sdh jadi tenaga kontrak duluan sih, mba.

Di sini ada beberapa pasang, mba. Mereka ketemunya pas sudah kerja gitu...

Aty Elias

Hemag mba Rita, hehehe...

Aty Elias

Om sama tanteku juga, mba. Padahal mereka sodara kandung, bukan suami istri...

Aty Elias

Iya, kalo auditor gitu yaa kayaknya mba Fanny. Nggak boleh audit di kantornya pasangan, karena temenku juga gitu. Suaminya khan auditor, tapi nggak pernah audit ke kantor...

Aty Elias

Bwahaha...kalo di kantor malah nggak bisa bawel akunya, mba Nia. Di rumah aja deh, kesian...

Aty Elias

Iya, serunya pas di pembagian honor mba Suria Riza, xixixi...

Aty Elias

Iya mba Levina, masa harus bareng2 terus. Kadang ada yg bilang, "Lho, sendiri aja perginya?". Yaiya lah sendiri, beda tupoksi kok, batinku...

Aty Elias

Hahaha...sangat menguntungkanku 😂😂😂

April Hamsa

Hehehe tetep ada untung dan ruginya ya mbak, tapi gmn lagi, jodohnya begitu :D
Aku g punya tmn yang nikah sama tmn kantor yang mejanya sebelahan :))

Rosalina Susanti

kok saya banget sihh mbak, pasangan sekantor...
dan saya mengamini semua point di atas... haha

Aty Elias

Selalu begitu sepertinya mba April. Ada untung, ada rugi yang mengikuti, hehehe...

Aty Elias

Hahaha...toss dulu mba Rosalina ☺😊